Tampilkan postingan dengan label Cerita Penggugah Jiwa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita Penggugah Jiwa. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 13 Agustus 2011

~~~~#@ANDAIKAN AKU DIMAKAMKAN HARI INI@#~~~~




Perlahan, tubuhku ditutup tanah. Perlahan, semua pergi meninggalkanku. Masih terdengar jelas langkah-langkah terakhir mereka Aku sendirian, di tempat gelap yang tak pernah terbayang, Sendiri, menunggu keputusan...

Istri, belahan hati, belahan jiwa pun pergi, Anak, yang di tubuhnya darahku mengalir, tak juga tinggal, Apa lagi sekedar tangan kanan, teman dekat, rekan bisnis, atau orang lain, Aku bukan siapa-siapa lagi bagi mereka. Istriku menangis, sangat pedih, aku pun demikian, Anakku menangis, tak kalah sedih, dan aku juga, Tangan kananku menghibur mereka, teman dekatku berkirim bunga dan ucapan, Tetapi aku tetap sendiri, disini, menunggu perhitungan ...

Menyesal sudah tak mungkin. Tobat tak lagi dianggap. Dan ma'af pun tak bakal didengar, aku benar-benar harus sendiri... Ya .ALLAH... (entah dari mana kekuatan itu datang, setelah sekian lama aku tak lagi dekat dengan-Nya, tiba-tiba saja aku ingin menyebut-Nya) Jika kau beri aku satu lagi kesempatan, Jika kau pinjamkan lagi beberapa hari milik-Mu, beberapa hari saja...

Aku akan berkeliling, memohon ma'af pada mereka, Yang selama ini telah merasakan zalimku, yang selama ini sengsara karena aku, Yang tertindas dalam kuasaku, yang selama ini telah aku sakiti hatinya Yang selama ini telah aku bohongi...

Aku akan kembalikan, semua harta kotor ini, Yang kukumpulkan dengan wajah gembira, yang kukuras dari sumber yang tak jelas, Yang kumakan, bahkan kutelan yang sudah jelas haram... Aku harus tuntaskan janji-janji palsu yang sering kuumbar dulu Dan ALLAH... Beri lagi aku beberapa hari milik-Mu, Untuk berbakti kepada ayah dan ibu tercinta, Teringat kata-kata kasar dan keras yang menyakitkan hati mereka , Maafkan aku ayah dan ibu, mengapa tak kusadari betapa besar kasih sayangmu Beri juga aku waktu, untuk berkumpul dengan istri dan anakku, Untuk sungguh-sungguh beramal soleh ...

Aku sungguh ingin bersujud dihadap-Mu, bersama mereka... Begitu sesal diri ini karena hari-hari telah berlalu tanpa makna Penuh kesia-siaan ... Kesenangan yang pernah kuraih dulu, tak ada artinya sama sekali Mengapa kusia-siakan saja waktu hidup yang hanya sekali itu Andai aku bisa putar ulang waktu itu ...

Aku dimakamkan hari ini, dan semua menjadi tak terma'afkan, Dan semua menjadi terlambat, dan aku harus sendiri, Untuk waktu yang tak terbayangkan ... __________________________

::: Kisah Kakak Beradik :::



‎ Pada suatu masa hiduplah dua orang saudara, kakak beradik. Sang kakak adalah seorang yang sholeh. Sejak kecil hari-harinya lebih banyak dilewati di dalam mesjid. Berzikir, Membaca Alquran dan Shalat sudah menjadi kebiasaan sang kakak. Namun tidak demikian dengan sang adik. Sang adik adalah seorang yang jauh dari mesjid Sejak kecil hidupnya penuh dengan maksiat. Berzina dengan pelacur, berjudi dan mabuk-mabukan sudah menjadi kebiasaannya Ketika mereka menginjak usia 40 tahun sang kakak berujar " Aku selalu hidup dalam kebaikan. Waktuku banyak kuhabiskan didalam mesjid.

Rasanya aku ingin sekali-sekali mencoba bagaimana kehidupan diluar sana. Nanti setelah puas bermain perempuan dan mabuk-mabukan, aku akan lansung bertobat" Demikianlah niatan sang kakak untuk menemui adiknya dirumah pelacuran. Pada saat yang sama , sang adik pun sedang berpikir "Aku selalu hidup dalam kemaksiatan. Waktuku banyak kuhabiskan ditempat pelacuran. Rasanya , aku ingin sekali merasakan bagaimana indahnya kehidupan didalam mesjid. Baiklah aku akan menemui kakakku disana" Selepas magrib , berjalanlah keduanya sesuai dengan niatan masing-masing. Hanya saja mereka melalui jalan yang berbeda sehingga tidak sampai bertemu dijalan.

Setibanya ditempat pelacuran, sang kakak tidak menemukan adiknya. Ketika ditanyakan kemana , tidak ada seorangpun yang tahu. Lalu sang kakak memutuskan untuk tetap bermain perempuan dan mabuk-mabukan walau tanpa ditemani adiknya. Demikian pula dengan sang adik. Ia pun tidak menemukan kakaknya di mesjid. Ketika ditanyakan kemana , tidak ada seorangpun yang tahu. Sang adik lalu memutuskan untuk tetap berzikir dan shalat dimesjid. Saat itulah gempa bumi yang dahsyat mengguncang. Tapi karena terlalu nikmatnya bermain perempuan, sang kakak tidak merasakannya. Begitupun dengan sang adik, karena sedang merasakan nikmatnya shalat dan berzikir, ia pun tidak merasakannya. Hingga kemudian robohlah mesjid dan rumah pelacuran itu.

Peristiwa ini kemudian membuat heran para penduduk. Mengapa? Karena sang adik yang selama ini dikenal sebagai orang yang selalu berbuat maksiat, ternyata ditemukan jasadnya direruntuhan mesjid sambil memeluk alquran. Adapun sang kakak yang selama ini dikenal sebagai seorang yang shaleh , ternyata ditemukan jasadnya direruntuhan rumah pelacuran dalam keadaan telanjang bersama jasad seorang wanita pelacur.

Jadi....... Jangan pernah berbangga hati jika kita menjadi orang yang banyak amalnya karena kita tidak mengetahui akhir kehidupan kita. Jangan pernah meremehkan dosa karena kematian tidak diketahui datangnya, lakukan yang terbaik dalam hidup, jangan bermaksiat, dan segera bertobat jika kita melakukan dosa Jangan pernah putus asa jika kita menjadi ahli maksiat karena ampunan Allah SWT sangat luas bagi semua hamba-Nya Jangan pernah meremehkan orang lain yang berbuat dosa karena mungkin suatu saat dia bertobat dan mendapat ampunan Allah SWT. Dikutip dari Fenomena Dalam Kehidupan

Minggu, 24 April 2011

Menggapai Kasih Sayang Allah


Betapa indah dan mulianya hidup kita bila memiliki hati yang tidak punya ruang untuk membenci dan menyakiti orang lain. Yang ada hanya ruang senyuman dan cinta kasih yang tidak pernah kering, senantiasa berlimpah mengalir untuk sesama. Senyuman dan cinta kasih menyegarkan jiwa siapapun yang mendapatkannya. Alangkah indahnya hidup ini bila kita menjadi sumber mata air yang melimpahkan senyuman dan cinta kasih.

Setiap orang selalu ingin tampil cantik atau tampan. Sesederhana apapun kita selalu berusaha tampil indah mempesona, sedap dipandang mata. Namun kecantikan dan ketampanan tidaklah kekal dan abadi. Seiring waktu tubuh kita melemah dan tidak menawan lagi. Hanya kecantikan batinlah yang bisa menjadi abadi. Itulah kecantikan hati.

Kecantikan Hati bisa menjadi milik siapapun. Tidak peduli semenarik apapun dirinya dan sesederhana apapun penampilannya. Bila ada orang yang memiliki hati yang indah akan memancarkan pada wajah, perilaku dan tutur katanya, banyak sekali teman-teman yang datang untuk menghampiri dirinya, sekedar untuk singgah dan mendapatkan kesejukan jiwa. Semua menjadi terasa indah dipandang karena kekuatan keindahannya ada di dalam diri yang memancar keluar. Pancaran keindahan hati yang banyak dicari karena bersumber dari Kasih Sayang Allah.

Apabila bibir kita tersenyum, mampukah hati kita juga tersenyum? Disaat tangan memberi, apakah hati kita dengan tulus untuk berbagi? Jadikanlah hati kita memancarkan keindahan yang melimpahkan senyuman dan kasih sayang bagi sesama, sebab hanya dengan melimpahnya kasih sayang bagi sesama kita bisa menggapai kasih sayang Allah Subhanahu Wa Ta'ala.

Cukuplah Allah Menjadi Penolong Kami


Bila kita sedang menghadapi berbagai ujian, cobaan, musibah barulah menyadari kita memerlukan pertolongan. Kita baru tersadar bila kita tertimpa ujian dan cobaan yang bertubi-tubi, seolah terlempar ke dunia yang terasa begitu berat membuktikan bahwa kita makhluk yang lemah, tidak berdaya, kita memerlukan bantuan, kita memerlukan bantuan. Namun kepada siapa kita meminta pertolongan? Bukankah disekeliling kita juga membutuhkan pertolongan? Secercah harapan dalam hidup kita hadir bila kita menyakini 'Hasbunallah wanikmal wakil' (QS. Ali Imran: 173). Artinya, 'Cukuplah Allah menjadi penolong kami.'

Ketika Nabi Ibrahim Alaihi Salam dilempar ke dalam kobaran api, beliau mengucapkan 'Hasbunallah wanikmal wakil' Allah menjadikan api yang panas menjadi dingin sehingga Nabi Ibrahim selamat dari kobaran api yang membara. Demikian juga ketika Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi wa Salam dan para sahabatnya mendapatkan ancaman juga mengucapkan 'Hasbunallah wanikmal wakil' yang membuatnya selamat dari marabahaya.

'Cukuplah Allah menjadi penolong bagi kami dan Dia sebaik-baiknya pelindung. Maka mereka kembali dengan nikmat dan karunia yang besar dari Allah, mereka tidak ditimpa suatu bencana dan mengikuti keridhaan Allah. Allah mempunyai karunia yang besar.' (QS. Ali Imran : 173-174).

Kita tidak akan bisa mampu melawan bencana, menaklukkan semua derita dan mencegah musibah yang datangnya setiap saat dengan cara kita sendiri sebab kita memiliki kemampuan yang terbatas, kita diwajibkan berikhtiar untuk menyelesaikan setiap masalah bagaimana hasilnya selebihnya kita menyerahkan kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Jika tidak demikian, adakah jalan keluar yang lebih baik untuk kita tempuh disetiap kita menghadai ujian dan cobaan?

'Dan bertawakallah engkau hanya kepada Allah, jika engkau orang-orang yang beriman.' (QS. al-Maidah : 23).

Teman yang berbahagia, bertawakallah kepada Allah yang Maha Kuat dan Maha Sempurna yang kekuatannya begitu teramat besar tak terbatasi, jadikanlah 'Hasbunallah wanikmal wakil' sebagai amalan yang bermakna dalam setiap langkah kita. jika anda sedang terlilit hutang, menghadapi cobaan yang beruntun, kehilangan pekerjaan, rizki yang seret, dikhianati orang yang anda cintai, sedang dalam keadaan sakit parah, jika anda takut terhadap perlakuan orang berbuat dzalim, mengadu dan berharaplah kepada Allah dengan mengucap 'Hasbunallah wanikmal wakil' Insya Allah, ujian, cobaan, penderitaan dan masalah kita selesai dengan pertolongan Allah. Amin..

AIR MATA RASULULLAH


Tiba-tiba dari luar pintu terdengar seorang
yang berseru mengucapkan salam.
"Bolehkah saya masuk?" tanyanya. Tapi
Fatimah tidak mengizinkannya masuk,
"Maafkanlah, ayahku sedang demam",kata
Fatimah yang membalikkan badan dan
menutup pintu.

Kemudian ia kembali menemani ayahnya
yang ternyata sudah membuka mata dan
bertanya pada Fatimah,"Siapakah itu wahai
anakku?"
"Tak tahulah ayahku, orang sepertinya baru
sekali ini aku melihatnya,"tutur Fatimah
lembut. Lalu, Rasulullah menatap puterinya
itu dengan pandangan yang menggetarkan.
Seolah-olah bahagian demi bahagian wajah
anaknya itu hendak dikenang.
"Ketahuilah, dialah yang menghapuskan
kenikmatan sementara,dialah yang
memisahkan pertemuan di dunia. Dialah
malaikatul maut," kata Rasulullah, Fatimah
pun menahan ledakkan tangisnya.
Malaikat maut datang menghampiri, tapi
Rasulullah menanyakan kenapa Jibril tidak
ikut sama menyertainya.
Kemudian dipanggilah Jibril yang
sebelumnya sudah bersiap diatas langit
dunia menyambut ruh kekasih Allah dan
penghulu dunia ini.
"Jibril,jelaskan apa hakku nanti di hadapan
Allah?", tanya Rasululllah dengan suara yang
amat lemah.
"Pintu-pintu langit telah terbuka, para
malaikat telah menanti ruhmu. "Semua
syurga terbuka lebar menanti
kedatanganmu," kata Jibril.
Tapi itu ternyata tidak membuatkan
Rasulullah lega,matanya masih penuh
kecemasan.
"Engkau tidak senang mendengar khabar ini?
", tanya Jibril lagi.
"Khabarkan kepadaku bagaimana nasib
umatku kelak?"
"Jangan khawatir, wahai Rasul Allah, aku
pernah mendengar Allah berfirman
kepadaku:
"Kuharamkan syurga bagi siapa saja, kecuali
umat Muhammad telah berada didalamnya,"
kata Jibril.
Detik-detik semakin dekat, saatnya Izrail
melakukan tugas.
Perlahan ruh Rasulullah ditarik. Nampak
seluruh tubuh Rasulullah bersimbah peluh,
urat-urat lehernya menegang.
"Jibril, betapa sakit sakaratul maut ini."
Perlahan Rasulullah mengaduh. Fatimah
terpejam, Ali yang disampingnya menunduk
semakin dalam dan Jibril memalingkan
muka."Jijikkah kau melihatku, hingga kau
palingkan wajahmu Jibril?" Tanya Rasulullah
pada Malaikat pengantar wahyu itu. "Siapakah
yang sanggup, melihat kekasih Allah
direnggut ajal," kata Jibril. Sebentar kemudian
terdengar Rasulullah mengaduh, karena
sakit yang tidak tertahankan lagi.
"Ya Allah, dahsyat nian maut ini, timpakan
saja semua siksa maut ini kepadaku, jangan
pada umatku."
Badan Rasulullah mulai dingin, kaki dan
dadanya sudah tidak bergerak lagi.
Bibirnya bergetar seakan hendak
membisikkan sesuatu, Ali segera
mendekatkan telinganya.
"Uushiikum bis shalati, wa maa malakat
aimanuku"
"peliharalah shalat dan peliharalah orang-
orang lemah di antaramu."
Diluar pintu tangis mulai terdengar
bersahutan, sahabat saling berpelukan.
Fatimah menutupkan tangan di wajahnya,
dan Ali kembali mendekatkan telinganya ke
bibir Rasulullah yang mulai kebiruan.
"Ummatii,ummatii,ummatiii?" - "Umatku,
umatku, umatku"
Dan, berakhirlah hidup manusia mulia yang
memberi sinaran itu.
Kini, mampukah kita mencintai sepertinya?
Allahumma sholli 'ala Muhammad wa baarik
wa salim 'alaihi Betapa cintanya Rasulullah
kepada kita.

NB: Kirimkan kepada sahabat-sahabat
muslim lainnya agar timbul kesadaran untuk
mengingat maut dan mencintai Allah dan
RasulNya, seperti Allah dan Rasulnya
mencintai kita.

Kamis, 07 April 2011

PRAKTEK PEMBENTUKAN DIRI

Metode Carkhuff pada bagian
terdahulu tulisan ini sangat
membantu kita
mengorganisasi sumber-
sumber daya manusiawi kita.

Pengorganisasian dapat
dilakasanakan dengan proses
belajar melalui tiga tahap:

MENYELIDIKI DIRI, MENGERTI
DIRI DAN MELANGKAH. Untuk
mempermudah penyelidikan
diri, kita perlu memiliki
keterampilan menjawab diri.

Untuk mempermudah
mengerti diri, kita perlu
memiliki keterampilan
mempribadikan permasalahan
dan mempribadikan tujuan.

Untuk membantu melangkah,
kita perlu memiliki
keterampilan memulai. Kita
perlukan pula evaluasi dari
semua langkah itu. Itu semua
kita laksanakan berdasarkan
sikap dasar:

EMPATI,
OTENTIK, RESPEK,
KONFRONTASI dan
PERWUJUDAN DIRI.

Dan yang
tidak boleh dilupakan ialah
bahwa semua ini harus kita
laksanakan dalam semangat
doa, terus-menerus memohon
rahmat Allah. Sebab
betapapun sempurnanya
metode itu dilaksanakan,
namun tanpa RAHMAT ALLAH
juga tak akan mendewasakan.

Tahap I: Tahap menyelidikidiri
dan keterampilan menjawab
diri

a. Pengertian
Tahap pertama proses belajar
pembentukan diri adalah
menyelidiki diri kita dimana
kedudukan kita dalam dunia
kita. Ini berarti kita berusaha
mengenal keadaan kita yang
obyektif, apa adanya, apa
yang sesungguhnya.Kita
masuk ke dalam daerah
pribadi kita yang kurang lebih
kabur bagi kita.

Di situ kita
dapat memperjelas persoalan-
persoalan kita, mencanangkan
kembali arah tujuan kita yang
sudah hilang, menghubungkan
kembali pengalaman-
pengalaman kita.
Dengan
demikian kita dapat
menemukan kembali kesatuan
dalam diri kita yang menjadi
daya untuk menerima
pendewasaan dari Allah.

b. Pelaksanaan
Untuk memperlancar
penyelidikan diri, kita
menggunakan kecakanapan
menjadab diri yaitu kita
bertanya kepada diri kita dan
berusaha menjawabnya.

Bagaimana hal ini kita
laksanakan?

Kita masuk ke dalam diri kita
dengan mengenali perasaan-
perasaan yang ada dalam diri
kita serta alasan-alasan
munculnya perasaan-perasaan itu.

Kita bertanya kepada diri kita:

“Apa yang saya rasakan
sekarang ini? Dan apa
sebabnya saya merasakan
itu ?”

Kita menjawab apa
adanya misalnya:
“saya
merasa iri pada teman-teman
saya karena dia mendapat
nilai baik sedangkan saya
tidak ”.

“Saya merasa gelisah, murung, kecewa karena saya tidak lulus dalam kursus
bahasa Perancis ”.

“Saya kecewa karena keluarga saya miskin dan orang tua tidak
dapat membelikan sepeda motor untuk saya ”.

“Saya merasa penuh syukur karena saya diberikan anugerah iman
yang besar ”, dan seterusnya.

Kita menjawab diri apa adanya dan semua perasaan beserta alasan-alasannya itu dengan nama-nama yang jelas dan tepat.

Untuk memperlancar pengenalan
terhadap perasasn-perasaan serta alasan-alasannya
dibutuhkan sikap empati dan respek.

Bila seseorang
mempunyai persoalan,
kemudian orang itu mengemukakan persoalannya
itu kepada orang lain yang
mau mendengarkan penuh
pengertian, empati, respek,
maka orang itu akan semakin
didorong untuk semakin
mengungkapkan apa yang
dirasakannya.

Demikian pula
diri kita. Bila kita
mendengarkan apa yang
dirasakan maka kita akan
semakin didorong untuk
semakin dalam
mengungkapkan apa yang kita
rasakan.

Mari kita ikuti contoh ini. Ali
selalu merasa kecewa, malas
dan tidak bersemangat dalam
hidupnya. Ia ingin mengenal
keadaan dirinya yang
sesungguhnya. Ia mulai
mengambil langkah pertama
dengan menjawab diri. Ia
bertanya pada dirinya. “Apa
yang saya rasakan dan
mengapa ?” Ia menjawab,
“Saya merasa kecewa, malas
dan tidak bersemangat,
karena tidak diterima di
Universitas Indonesia ”. Ia
menerima ungkapan perasaan
dirinya itu dengan penuh
pengertian, empati dan respek
maka ia didorong untuk
menjawab diri lebih dalam
lagi. “Saya mengikuti
pelajaran dan kursus tidak
bersemangat; saya lebih suka
menyendiri; persahabatan
dengan tema-teman mulai
kuang hangat; iman menjadi
goyah karena kecewa
terhadap Tuhan.

Minggu, 03 April 2011

CERITA SANG ANAK

seorang anak yg memperhatikan ibundanya sholat, dan menangis dalam sholatnya..hanya terdiam memandangi ibundanya, hingga selesai

“kamu sudah sholat atau belum sayang..?” tanya sang mama
“aku baru mau sholat..tadi mau bareng sama mama, tapi aku sakit perut..” hehe jawabnya sambil tersenyum

“iya sudah..sekarang kamu sholat ya..:)” tegur mama
Dan ternyata..sang mama tidak bisa menyembunyikan kesedihannya, sambil membersihkan wajahnya dihadapan cermin dan sesekali air matanya turun kembali, sambil memperhatikan sang anak yg sedang sholat. hingga anak selesai sholat, dan memperhatikan wajah ibundanya yg tidak bisa menyembunyikan kesedihannya, sambil melipat mukenah yg habis dipakainya sang anak mulai memancing mamanya dengan candanya

“ma..tahu enggak?! kalau amanah itu ada juga yg jadi buat orang salah dan membahayakan orang lain” ceritanya sambil tersenyum-senyum

“masak sich..amanah yg seperti apa tuch..?” tanya mama sambil terus mengusap air matanya yg masih turun
“aku punya cerita ma..tentang amanah itu ?”

“coba ceritain dong sama mama..” tanggap mama yg mencoba tertawa-tawa pada buah hatinya
“waktu itu ada orang yg ingin bunuh diri di rel kereta api, lalu masinis itu melihat orang yg sedang duduk di rel itu.!! kemudian masinis langsung menelphon petugas jaga, dan memberitahukan bahwa ada orang yg mau bunuh diri.”cerita anak dengan mimik lucunya

“lalu..” tanggap mama
“hallo..pak petugas..!ada orang yg mau bunuh diri nich..kata masinis”
“lho..emang yg mau bunuh diri ada berapa orang? tanya petugas jaga”
“yg mau bunuh diri ada satu orang..kata masinis panik”

“lalu..berapa penumpang yg sedang kamu bawa..tanya petugas”
“penumpang yg ada dikereta saya ada 1000 orang pak.!! kata masinis panik”
“oh…ya sudah..tabrak aja yg 1 dan selamatkan yg 1000..!! kata petugas”

cerita sang anak dengan serius sambil memperagakan gaya seorang masinis dan petugas penjaga kereta
“lalu..amanah yg salahnya dimana dong..?” tanya mama mulai bingung
“lha..itu ma..!! ternyata orang itu enggak jadi bunuh diri, lalu bangun dari rel dan berniat untuk pergi menjauh dari kereta yg mau lewat..!! ya..karena si masinis sudah terima amanat untuk menabrak yg satu dan menyelamatkan yg 1000, akhrinya..kereta ini dibelokkan oleh masinis ke luar rel dan mengejar orang yg enggak jadi bunuh diri itu.?! ya..akhirnya..kereta yg keluar rel itu terbalik dan penumpang yg 1000 itu jadi celaka, eeh..malah yg enggak jadi bunuh diri itu selamat dech..!!” hahaha akhirnya ibu dan anak sudah tertawa-tawa memegang perutnya

“itulah..ma..kalau amanat diterima, dan yg menerima amanat itu bodoh!!” hahaha sang mama hanya tertawa-tawa sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, dan terlihat senyum bahagia dari wajah sang anak, yg sudah berhasil membuat mamanya tertawa.

Robbi habbli minassholihin, ya..Allah..jadikanlah buah hatiku anak-anak yg sholeh.. yg dapat menjadi penerang dalam rumah, penyejuk mata dan hatiku, pemanis hidup dan kehidupan, pemancing tawa dan menghapus kesedihan
Salam,



CeritaMotivasiMu.Com

KISAH HIKMAH ISLAMI SI TUKANG CUKUR


Seorang konsumen datang ke tempat tukang cukur untuk memotong rambut dan merapikan brewoknya. Si tukang cukur mulai memotong rambut konsumennya dan mulailah terlibat pembicaraan yang mulai menghangat.

Mereka membicarakan banyak hal dan berbagai variasi topik pembicaraan, dan sesaat topik pembicaraan beralih tentang TUHAN.

Si tukang cukur bilang,”Saya tidak percaya kalau TUHAN itu ada”.
“Kenapa kamu berkata begitu ?” tanya si konsumen.

“Begini, coba kamu perhatikan di depan sana, di jalanan…. untuk menyadari bahwa TUHAN itu tidak ada”.
“Katakan kepadaku, jika TUHAN itu ada. Adakah yang sakit? Adakah anak-anak terlantar? Adakah yang hidupnya susah?” .

“Jika TUHAN ada, tidak akan ada sakit ataupun kesusahan”.
“Saya tidak dapat membayangkan TUHAN Yang Maha Penyayang akan membiarkan ini semua terjadi”.

Si konsumen diam untuk berpikir sejenak, tapi tidak merespon apa yang dikatakan si tukang cukur tadi, karena dia tidak ingin terlibat adu pendapat.

Si tukang cukur menyelesaikan pekerjaannya dan si konsumen pergi meninggalkan tempat si tukang cukur.
Beberapa saat setelah dia meninggalkan ruangan itu dia melihat ada orang di jalan dengan rambut yang panjang, berombak kasar (Jawa : mlungker-mlungker – Red), kotor dan brewok, tidak pernah dicukur. Orang itu terlihat kotor dan tidak terawat.

Si konsumen balik ke tempat tukang cukur tadi dan berkata :
“Kamu tahu, sebenarnya di dunia ini TIDAK ADA TUKANG CUKUR..!”

Si tukang cukur tidak terima, dia bertanya : “Kamu kok bisa bilang begitu?”.
“Saya tukang cukur dan saya ada di sini. Dan barusan saya mencukurmu!”

“Tidak!” elak si konsumen.
“Tukang cukur itu TIDAK ADA! Sebab jika tukang cukur itu ada, tidak akan ada orang dengan rambut panjang yang kotor dan brewokan seperti orang yang di luar sana”, si konsumen menambahkan.
“Ah tidak, tapi tukang cukur itu tetap ada!”, sanggah si tukang cukur.

“Apa yang kamu lihat itu adalah SALAH MEREKA SENDIRI, mengapa mereka tidak datang kepada saya untuk mencukur dan merapikan rambutnya?”, jawab si tukang cukur membela diri.
“COCOK, SAYA SETUJU..!” kata si konsumen.

“Itulah point utamanya!.. Sama dengan TUHAN.
“Maksud kamu bagaimana?”, tanya si tukang cukur tidak mengerti.
Sebenarnya TUHAN ITU ADA ! Tapi apa yang terjadi sekarang ini.?

Mengapa orang-orang TIDAK MAU DATANG kepada-NYA, dan TIDAK MAU mencari-NYA..?
Oleh karena itu banyak yang sakit dan tertimpa kesusahan di dunia ini.”

Si tukang cukur terbengong!!!! Dalam hati dia berkata : “Benar juga apa kata dia..mengapa aku tidak mau datang kepada TUHANKU, untuk beribadah dan berdoa, memohon agar dihindarkan dari segala kesusahan dalam hidup ini..?”

JENGGOT

cerpen-jenggot
Lumpur di lorong-lorong Pasar Cempaka sudah mengering sejak beberapa jam lalu. Siang ini aktifitasnya sudah tidak seramai pagi tadi. Namun bau amis, busuk, kecut, harum, dan segala macam bau masih dapat dicium dengan jelas. Lalat-lalat pun masih mencari nafkahnya di antara sumber bau.
Beberapa meter dari situ, terdapat seorang pemuda yang tengah sibuk memperhatikan sekitarnya. Penampilannya persis mata-mata. Kaca mata hitam, topi hitam, dan jaket hitam. Hampir semuanya hitam, kecuali gigi, kulit, dan celana abu-abu yang belum sempat ia tanggalkan sepulang sekolah. Ia tidak ingin keberadaannya di pasar itu diketahui oleh orang lain, apalagi teman-teman sekolahnya. Langkahnya tampak terburu menuju kios bumbu-bumbu masak.
“Bu, beli kemiri seperempat kilo!” ujar pemuda itu seraya memberi uang lima ribuan kepada si penjual. Proses transaksi tak berlangsung lama, langkahnya kembali terburu meninggalkan kios.
***
“Assalamualaikum!” teriak Budi yang disusul dengan hentakan pintu yang dibanting.
“Waalaikumussalam. Bud, makan dulu,” ujar ibunya. Namun tak dihiraukannya. Dengan cepat Budi sudah berada di lantai dua, menuju kamarnya berada.
“Inilah saatnya melakukan ritual itu!” Budi tampak bersemangat. Segala atribut dan perlengkapan “ritual” pun telah siap.
“Hm… tunggu dulu…” Budi ingat sesuatu.
Ckleck!
Kamarnya ia kunci, khawatir kalau ibunya tiba-tiba masuk kamar sewaktu-waktu.
Kemiri dibakar. Tunggu sebentar. Diperes minyaknya. Terus minyaknya dioleskan di tempat yang diinginkan.
Budi mengikuti semua catatan intruksi dari Ujang, teman baiknya yang telah berhasil menumbuhkan jenggot dengan eksperimen minyak kemiri.
Sebelum mengoleskan minyak ke janggutnya, terlebih dahulu otaknya berkhayal tentang wajahnya yang ditumbuhi jenggot. Otaknya memilih-milih model jenggot yang sekiranya pas dengan mukanya yang lonjong. Rhoma Irama, Onci Ungu, Surya Saputra, dan sejumlah artis berjenggot pun menjadi referensi.
Dengan tangan gemetar, entah karena tidak sabar atau grogi, perlahan ia mulai mengoleskan minyak kemiri ke janggutnya yang plontos polos. Tak lupa lafadz doa terucap khidmat dari mulutnya, berharap jenggot segera tumbuh.
***
Sudah lama sekali Budi ingin memiliki jenggot. Tapi sampai sekarang belum juga janggutnya yang mulus itu ditumbuhi jenggot.
Sebenarnya ia bukan orang yang kekurangan hormon penumbuh bulu. Terbukti dari lebatnya bulu kaki, kumis, dan segala tempat yang ada bulunya. Namun entah kenapa hanya jenggot yang belum ia punya. Terkadang ia sempat kesal ketika temannya ada yang mempertanyakan perihal jenggotnya.
“Bud, jenggot lu ke mana?”
“Hm…setiap hari gw cukur terus, habis gw gak suka jenggot sih,” jawab Budi seadanya. Meski berbohong, dalam hatinya ia ingiiin sekali punya jenggot. Ia kesal karena hanya dia yang belum punya jenggot di antara teman-temannya. Padahal kini ia sudah kelas 3 SMA!
Banyak alasan kenapa Budi ingin sekali punya jenggot. Di antaranya adalah melengkapi kejantanannya yang kurang, menutupi bekas lukanya yang ada di dagu, dan buat jadi pelengkap kebiasaannya mengelus dagu saat berpikir. Gak keren rasanya kalau ngelus dagu tapi gak ada jenggotnya. Namun di balik itu semua, alasan yang paling kuat adalah karena ia sempat ditolak sama adik kelas yang sudah lama ia incar, Lola namanya. Ia ditolak dengan alasan si doi gak suka kumis. Katanya kumis sudah gak jaman. Si doi lebih suka cowok yang punya jenggot. Lebih keren katanya.
“Jangan pernah datangi aku jika kau tidak punya jenggot!” ujar Lola seperti dialog sinetron di akhir proses penolakan.
Selama ini Budi percaya bahwa kumis adalah sumber kejantanan. Karena Bapaknya menaklukan Ibunya lewat model kumis yang sedang populer saat itu. Dengan kata lain, tanpa kumis mungkin Budi tidak akan pernah ada di dunia ini. Namun Budi segera sadar, kejayaan kumis telah hancur seiring hancur hatinya karena ditolak Lola. Lola suka jenggot. Titik. Gak pake kumis.
Satu minggu… dua minggu… dan akhirnya jadilah 3 bulan. Budi mengahampiri Ujang dengan geram. Ia protes. Pasalnya ia sudah mengoleskan minyak kemiri 3 kali sehari setiap sehabis makan, tapi jenggot belum juga hadir di jangutnya hingga sekarang.
“Jang, lu bohong nih! Mana khasiyat kemiri yang lu janjikan? Buktinya sampe sekarang gw belum juga ada jenggot!” protes budi setengah berbisik kepada Ujang di kantin sekolah. Ia tak ingin teman-temannya yang lain tahu kalau ia sedang berusaha menumbuhkan jenggot.
“Sabar donk Bud. Sruuup… Baru juga 3 bulan. Nyamm nyamm… Gw aja dulu ampe setahun! Glekh…” jawab Ujang sambil mengunyah mie goreng pesanannya.
“Gak bisa, Jang. Mana bisa gw nunggu setahun. Nanti keburu kita lulus. Kalau kita lulus kesempatan gw buat ketemu Lola kan jadi susah.”
“Ya kan belum tentu lu lulus, Bud.”
Satu jitakan mendarat di kepala Ujang.
“Serius donk Jang!”
“Hehe… iya iya. Duh, gitu aja marah,” kata Ujang sambil tangan kirinya ngusap-ngusap kepala yang habis dijitak Budi. Tangan kanannya tampak siap memasukkan mie goreng ke dalam mulutnya lagi.
“Lu punya solusi lain gak?” tanya Budi.
Ujang hanya menggeleng. Mulutnya penuh dengan mie goreng. Tak lama kerongkongannya bergerak. Glegh!
“Emang kenapa sih lu demen amat sama Lola? Ampe lu bela-bela numbuhin jenggot gitu.”
“Wah, cinta gw buat Lola gak bisa diungkapkan dengan kata-kata, Jang! Itu cewek imut banget! Senyumnya bagai sabit bulan di tengah malam. Alisnya bak semut beriring. Rambutnya halus sehalus bulu domba…”
“Matanya kaya bola pingpong gak?”
“Hem, hampir.”
“Hidungnya?”
“Licin dan mancung kaya perosotan taman.”
“Kupingnya?”
“Bodo ah!”
Makin hari Budi jadi lebih rajin. Rajin ke warnet, ke perpus, dan berdoa. Tapi bukan rajin belajar biar pinter, melainkan rajin cari tahu bagimana menumbuhkan jenggot. Tak lupa, ritual minyak kemiri tak ia tinggalkan.
Cintanya buat si Lola rupanya sudah sampai ke ubun-ubun. Setiap ada cewek yang dia lihat, selalu menjadi Lola. Guru yang mengajar di kelas adalah Lola. Penjual gado-gado di kantin adalah Lola. Sampai-sampai Kepala sekolahnya adalah Lola. Lola… oh Lola… tapi khayalannya selalu terputus saat ia melihat lelaki berjenggot.
Oh iya, jenggot!
Ia kembali berfikir keras untuk menumbuhkan jenggot. Percuma dia mendekati si Lola kalau dia belum punya jenggot.
Berbagai cara ia lakukan. Mulai dari makan makanan yang dipercaya dapat menumbuhkan jenggot, sampai melaksanakan pantangan-pantangan yang menyebabkan jenggot rontok.
Alhasil, usaha kerasnya kini berbuah manis, jenggot Budi tumbuh! Namun baru sebatas bulu halus. Berselang 2 meter, bulu halus itu sudah tak jelas terlihat. Ah, Mana bisa dapetin cintanya Lola kalau begini?
“Jangan pernah datangi aku jika kau tidak punya jenggot!”
Kata-kata Lola kembali terngiang.
***
Hari ini, seperti biasa, setiap seminggu sekali Budi pergi ke Pasar Cempaka untuk membeli kemiri. tapi kebiasaannya itu terpaksa tertunda beberapa jam karena ia ketiduran. Tapi tetap, pasar yang berjarak lebih dari 2 kilometer dari rumahnya itu ia datangi dengan berjalan kaki. Namun setelah dekat dengan lokasi, langkahnya terhenti. Matanya terkesiap dan meniti orang-orang yang panik dan berlari. Sementara beberapa meter, si jago merah tampak menari sendiri. Pujian angin buat api makin percaya diri. Tapi lain halnya dengan si Budi. Ia jadi panik. Jantungnya bertentum bagai bola basket yang terpantul. Sedang tubuhnya diam mematung. Sesekali matanya ia sapukan, seolah tak percaya dengan apa yang terjadi.
Entah bisikan dari mana, langkahnya mulai hidup kembali. Budi ikut berlari. Tapi tidak sembunyi. Ia ikut membantu mengambil air dengan mencontoh orang-orang yang dari tadi sudah mencari.
Setelah tiga jam, tarian api baru bisa berhenti. Meninggalkan gores luka yang kian meninggi. Tak ada yang tersisa. Termasuk kios kemiri.
Semua orang lelah. Termasuk Budi. Matanya masih menatap sisa-sisa bangunan yang habis dimakan api. Ada satu hal yang ia sadari, bahwa ia bisa saja mati jika saja ia tidak terlambat tadi. Ia kini paham,  kematian bisa hadir kapan saja.
Jantungnya Budi masih berdegub kencang, air matanya mengalir. Hari itu, untuk pertama kalinya, ia melupakan Lola lebih dari tiga jam. Budi tak sadar itu.
***
Waktu bergulir dengan pasti. Tak ada yang tahu kemana arah skenario kehidupan yang ditulis Tuhan. Sepeninggal kejadian di pasar itu, Budi berubah. Ia tidak seperti biasanya. Ia sekarang rajin sholat, setidaknya untuk beberapa minggu ini. Namun itu semua memberikan dampak yang signifikan pada wajahnya. Selain mukanya lebih segar, kini ia punya jenggot! Jenggot dalam arti yang sesungguhnya. Tidak sekedar bulu halus, tapi jenggot tulen! Entah apa karena air wudhu yang sering mengalir di wajahnya atau memang karena minyak kemiri sudah memberikan efeknya. Yang pasti, meski hanya 3 helai, ia bangga telah memilikinya.
Tapi bagai kacang lupa ingatan, memang dasar si Budi, sudah punya jenggot bukannya Tuhan yang diingat, tapi malah sosok Lola yang dilihat. Matanya kembali berapi-api. Jantungnya beradu ramai. Jenggotnya bergoyang-goyang, tanda tekadnya sudah bulat. Ia akan menembak Lola lagi! Kali ini dengan jenggot 3 helai sebagai saksinya.
Lola, akan kupinang engkau dengan jenggotku!

sumber : annida
Penulis: Deddy Sussantho

Kupu-kupu yang Hinggap di Nisan Tanpa Nama

Kupu-kupu itu selalu menghinggap di atas nisan tanpa nama itu. Nisan dari kayu lapuk yang tepat di bagian timur makam Bapak. Kupu-kupu yang pernah aku lihat dulu. Agaknya memang tiap aku ziarah ke makam Bapak ia sengaja muncul menemuiku. Mengisyaratkan agar aku mengingat masa lalu.
Raut muka yang berseliweran di depan rumahku bukan tampak biasa. Tak wajar. Tegang. Sekitar delapan sampai lima belasan orang berjaga di jalan. Masing-masing memegang gagang kayu sebesar lengan orang dewasa. Mereka bersiap jika ada serangan tak terduga. Bapak ada disitu. Beberapa jam yang lalu, tetanggaku dilempar batu sebesar batok kelapa tepat di dadanya. Akibatnya ia dilarikan ke rumah sakit, entah bagaimana keadaannya. Waktu itu usiaku amat belia. Aku ingat betul aku masih duduk di tahun terakhir Madrasah Ibtidaiyah, atau kalau kamu tak paham istilah itu kamu bisa menyebutnya Sekolah Dasar.
Begini. Kumulai kisahku dengan sebuah Langgar Atau mungkin orang di tempatmu menyebutnya mushola, surau, atau pondok. Di seberang jalan. Sekitar lima menit berjalan kaki dari rumahku. Tempat itu yang kini tak kujumpai lagi jika kupulang kampung. Tempatku mengaji dulu. Pula tempat pertama kali Bapak mengantarku pada ustadz Zuhdi. Kuingat, Persis di depan rumah ustadz Zuhdi, guru ngaji pertamaku itu langgar yang paling awal berdiri sebelum bertengger langgar-langgar lainnya. Hanya dipisahkan jalan yang membentang panjang di antara langgar dan rumahnya. Tentu tak sesepi tempat-tempat ngaji yang ada sekarang. Anak-anak kampung sebelah banyak juga yang berduyun ngaji disitu.
Tapi sekarang tak mungkin bisa kau saksikan lagi langgar itu berdiri di kampungku. Berderet-deret bangunan baru begitu membuat pangling. Puing pondasinya pun telah berdiri di atasnya sebuah ruko milik turunan orang Cina. Tiap aku berdiri di depan toko milik orang Cina itu samar-samar ingatanku membayang ustadz Zuhdi. Ada dimana beliau sekarang? Jika masih hidup, mungkin kini ia telah bercucu pinak. Namun bila telah tiada dari dunia, maka dimana pusaranya kini?
Rumahnya telah tak lagi terhuni. Sepi. Genting-gentingnya masih utuh di beberapa bagian. Jendelanya tersisa kaca-kaca tajam terkena lemparan batu. Di bagian yang lain retak membentuk alur yang tak beraturan. Di berbagai sudut hampa kamar rumah itu yang bisa ditemui hanya gelap pengap yang memenuhinya. Di bagian muka, dulu ada taman yang lumayan luas dengan bunga-bunga yang berwarna-warni, milik istri ustadz Zuhdi. Sekarang hanya rerumputan galak yang tampak tak asri. Bangunan itu terlihat menyeramkan.
Di seberang jalan di depan rumah itu dulunya langgar itu berdiri. Jelang maghrib, kami akan sudah disitu. Berlomba meletakkan mushaf Qur’an di dampar agar mendapat giliran setoran ngaji paling awal. Menunggu maghrib tiba, halaman rumah ustadz Zuhdi akan terdengar reriangan. Kaki-kaki yang berlarian mengepulkan debu. Ada teriakan dan canda. Mengejari kupu-kupu di antara pohon jambu air dan pohon sawo kecik. Kupu-kupu yang cantik warnanya. Putih, bergurat biru, juga sedikit warna kuning. Jarang kumenemukan selain di halaman rumah itu.
Kupu-kupu  itu menemani sore kami. Seperti pernik-pernik yang berwarna-warni. Kepakan sayap kecilnya bergerak dalam suara hampa. Sekejap ia akan terbang entah kemana. Kemudian kembali lagi. Membawa kupu-kupu yang lain, mungkin anak-anaknya atau keluarganya. Beberapa ada yang berdiam dalam kepompong, menggantung di dahan bunga kana.
Lalu ada yang berlarian menuju tepi jalan.
Teriakan-teriakan konvoi pemuda itu seperti tak menghiraukan terik yang begitu membuat kulit kering keriput. Ribuan orang tumpah ruah di jalanan. Ada begitu banyak motor yang meraung sehingga suara bisingnya begitu lama singgah di gendang telinga. Juga ibu-ibu dan orang-orang yang telah sepuh memenuhi mobil bak terbuka. Berpuluh ribu peluh tak mengeluh kepanasan. Suara-suara gas knalpot diiiringi bunyi klakson. Nyanyian mereka khas sekali. Konvoi itu gaduh. Seperti suara panggilan yang membius warga berkumpul di sisi-sisi jalan. Membentuk pagar manusia.
Menyaksikan ribuan orang berlalu melewati jalan adalah pemandangan yang menarik buatku dan teman-temanku saat itu. Wajar. Sesusiaku menyukai hingar-bingar yang tak biasa kusaksikan tiap hari.  Apalagi pakaian yang mereka kenakan di jalanan. Begitu menarik, ijo royo-royo. Muka-muka pemuda itu coreng-cemoreng hijau juga. Hijaunya hijau muda. Teman-temanku menyebut itu pawai Partai Ijo Muda. Bapak juga ikut partai itu. Kutahu sebab di muka halaman rumahku di sisi jalan tertancap tiang berlambang Partai Ijo Muda.
“Itu partai bapakku!” tunjuk Sapto bangga.
“Bapakku juga!” kubilang.
“Aku juga!” lalu yang lain menyahut.
“Sssst..nanti ustadz Zuhdi dengar,” bilang yang lainnya lagi.
“Iya, Sssstt…” aku melirik Sapto.
Tetanggaku Partai Ijo Muda. Pamanku Partai Ijo Muda. Pak Lik, Bu Lik, Pak dhe Partai Ijo Muda. Hampir seluruh keluargaku pengikut partai ijo muda. Seluruh desa partai ijo muda. Di kampungku cuma Ustadz Zuhdi yang di depan halamannya berkibar bendera partai yang berbeda dari yang dianut orang-orang kampung. Partai Ijo tua, bukan ijo muda. Partai ijo muda bergambar seperti kotak kapur sedangkan partai ijo tua bergambar bulatan bumi.
Tiap saat yang dibicarakan pasti bahasan yang sama. Tidak di pasar, di warung, di emper-emper rumah, bahkan di pengajian rutinan pun. Pasti pembicaraannya tentang pawai, kampanye, konvoi, partai, itu-itu saja. Pedagang berunding dengan pembeli, serius masalah partai. Bapak dan anak musyawarah keluarga, ngurusi partai. Kyai berdalil di depan khalayak juga singgung-menyinggung partai.
Tidak habis pikirnya, partai dipuja bagai juru selamat. Kalau tidak masuk partai itu tidak masuk surga katanya. Entah dalil dari mana itu. Pernah, dulu, kuikut bapak berkonvoi di jalanan. Membawa bendera dan mengenakan kaos hijau muda bergambar lambang seperti kotak kapur.
Bangga rasanya sebab tidak semua anak seusiaku mendapat izin orang tuanya mengikuti pawai sepertiku. Para orang tua mereka itu bukannya tak mau menuruti kehendak anaknya. Bukan pula menolak hingar-bingar dan sorak-sorai keramaian. Tetapi para orang tua khawatir keramaian itu kadang membawa petaka. Maksudku, kerusuhan sering terjadi jika antar partai berpapasan. Mungkin karena adu gengsi. Sok menunjukkan siapa yang terkuat. Sok saling tunjuk calon pemimpinnyalah yang paling kuat. Dan ujung-ujungnya tawuran. Masuk rumah sakit. Masuk penjara. Ironisnya lagi nyawa melayang demi membela seorang pemimpin yang mereka sendiri tak tahu jika terpilih kelak apa masih ingat pengorbanan mereka.
Saat itu aku tak ahu dari mana mulanya, jika Partai Ijo muda bertemu Partai Ijo tua maka dipastikan yang terjadi perseteruan. Aku sendiri tak mengerti, kedua partai itu basisnya islam, sama-sama berasal dari organisasi islam terbesar di Indonesia –seperti yang dulu pernah kudengar dari orang-orang-. Tapi mengapa begitu mudahnya mereka saling memusuhi. Saling memaki. Bahkan berusaha saling membunuh. Bukankah sesama muslim itu saudara? Bukankah pula sesama muslim itu mesti saling tolong-menolong?
Agaknya itu tak berlaku di tempatku.
Fanatisme yang berlebihan telah meracuni pemikiran masyarakatku. Otak mereka telah dicuci. Jika tidak memilih yang mereka pilih maka jangan harap dianggap manusia di masyarakatku.  Mereka saling cegat-mencegat. Jegal-menjegal adalah hal yang wajar. Kata-kata makian jadi umbaran yang halal bagi juru kampanye yang mengaku ulama itu. Waktu itu pernah kudengar dari kampanye -yang mereka sebut itu pengajian sebab yang berkampanye itu para kyai- , ulama-ulama juru kampanye itu memaki ulama lain yang tak sealiran dengannya, yang lebih ironis lagi yang diumpatnya waktu kampanye itu malah kelak jadi kepala Negara mereka.
Suatu pagi, seperti hari sebelumnya. Bola raksasa yang mengawang di angkasa mengawali putarannya. Tak pernah terpikirkan akan berapa lama lagi bola raksasa itu akan kehabisan energinya. Bahkan belum terpikirkan jika suatu pagi matahari akan lenyap dan berhenti bersinar sedangkan akal manusia belum mampu menjangkau untuk mencari energi yang bisa menggantikan matahari. Matahari yang sinarnya memancar ke banyak bagian yang berbeda. Matahari yang digunakan untuk patokan waktu di seluruh dunia. Mereka gunakan pula untuk menamai musim yang terjadi. Matahari yang dibutuhkan ibu jika akan menjemur pakaianku dan pakaian bapak. Matahari yang dicari para petani untuk mengeringkan gabah-gabahnya. Dan pula matahari yang digunakan nelayan untuk mengeringkan ikan asinnya.
Jalanan di hari itu tak semeriah hari lalu. Kabarnya hari itu akan ada kampanye Partai Ijo Tua. Tratak telah berdiri. Kursi-kursi plastik di tata berjajar rapi. Podium telah berdiri gagah. Banser dan pasukan yang terdiri dari orang-orang tegap berjaga di situ. Suasana tampak akan ada yang hajatan di tempat itu.
“Hancurkan kemusyrikan….Hancurkan syaiton..!” Teriakan itu memecah lengang. Disusul konvoi lelaki bercadar putih. Hanya mata yang saling memandang. Mata tanpa nama itu berkerumun membawa senjata yang siap untuk menyabet siapa saja yang akan menghalangi niatnya.
“Kalian terkutuk! Kalian bukan islam!” di bagian lain dari konvoi itu meneriaki orang-orang yang berada di pengajian itu.
“Kalian lebih terkutuk lagi!” jawab seorang dari pengajian itu.
Seorang dari kelompok pengajian itu menunjukkan nyalinya. Sendirian ia melangkah maju. Setelah menengadahkan tangan, ia membuat pagar ghaib. Kekuatan yang tak terlihat itu mampu mementalkan tiap barisan konvoi yang mencoba mendekati laki-laki tersebut. Salah satu pemimpin konvoi bercadar itu pun seperti tersulut amarahnya. Ia turun, entah melakukan ritual seolah keduanya saling berperang ghaib. Sesekali salah satu dari keduanya ada yang terpental. Tak beberapa lama ia mengomandoi naka buahnya.
“Maju! Jangan takut, kita di jalan yang benar!”
“Allahu Akbar!”
Dari belakang kerumunan terlempar bom molotof yang menjatuhi sebuah motor. Api pun langsung menyala-nyala memakan motor itu. Melahap bagian demi bagian yang terlapisi minyak tanah. Ratusan orang bergerak merangsek menenteng apa saja yang bisa digunakan untuk melukai. Bahkan bila perlu untuk membunuh.
Bagai drama perang kolosal masa lalu, tak ada mulut yang berbicara. Sabetan pedang dan celuritlah yang mewakili cakap mereka. Sahut-sahutan asma Allah seakan tak ada maknanya. Tak ada yang mampu berpikir jernih di situasi itu. Satu sama lain saling mengklaim yang benar. Saling mengaku merekalah sebenar-benarnya muslim. Partai telah membutakan mata mereka. Mereka pun tak peduli lagi jika yang mereka hadapi adalah saudara kandungnya. Mereka putus begitu saja ukhuwah yang terjalin ribuan tahun lalu.
Asap pekat membumbung ke angkasa. Belasan kendaraan menjadi korban keberingasan. Dibakar dan dimasukkan ke dalam sumur. Puluhan orang terluka. Langgar dan rumah pun tak luput dari amarah. Mereka lempari dengan batu. Mereka robohkan atap-atapnya. Mereka jarahi apa yang bisa mereka anggap sebagai barang berharga.
Malamnya, aku tak bisa lagi mengaji lagi ke Langgar. Langgar kami telah rata. Bapak melarangku pergi kemana- mana. Ibu-ibu dan anak-anak tak diperkenankan di luar rumah. Para pemuda dan orang tualah yang berjaga. Sayup-sayup dari dalam rumah kudengar mereka bercengkerama. Kudengar dengan jelas mereka menyebut nama Ustad Zuhdi. Guru ngajiku itu menghilang sejak peristiwa yang menghanguskan langgarnya. Sebagian yakin jika Ustad Zuhdi telah tewas terbantai. Lainnya berargumen, ustad Zuhdi menghilang bersama istrinya. Satu sama lain saling ngotot.
Setelah kejadian itu memang tak lagi ada yang tahu dimana Ustad Zuhdi. Banyak korban berjatuhan dari peristiwa itu. Dari yang terluka hingga hilang nyawanya. Kampung kami sedang berkabung. Berkabung karena matinya akal sehat, juga karena matinya ajaran ukhuwah yang selalu diajarkan Rasulullah. Kami menyesal pikiran-pikiran jahiliyyah kembali hadir di zaman se modern ini.
Sekitar lima jenazah menjadi korban peristiwa itu. Satu dari partai Ijo Muda, tiga dari partai Ijo Tua. Satu lagi korban tak dikenal identitasnya. Jenazah itu telah tak berupa manusia lagi. Sekujur tubuhnya hangus terbakar hingga tak terkenali. Jenazah itu lah yang mereka yakini jenazah Ustad Zuhdi. Guru ngajiku. Mayat-mayat itu dimakamkan dengan nisan tanpa nama. Tak ada yang tahu benar apakah itu Ustad Zuhdi. Sampai saat ini pun.
Tiap aku pulang kampung dan ziarah ke makam Bapak, kupu-kupu itu selalu hadir di penglihatanku. Ada ikatan batin yang sulit diungkap antara aku dan kupu-kupu itu. Kupu-kupu itu seperti merekam sebuah ingatan. Dalam senja yang ramah angin terkadang luruh seakan meniupkan kenangan. Sebuah andai yang ingin kembali terjadi. Tak ada hal lain yang kukenang jika tengah berdiri menatap kepakan lentik dari warna yang begitu membuat bayangan masa lalu muncul kembali. Tak tahu dari mana munculnya. Pernah kucoba menelusuri asalnya. Tapi niatanku begitu saja pupus saat bertemu kenyataan kesehariaanku.
Jepara, Juni 2010, untuk mengenang peristiwa 1999 di kotaku
sumber : majalah annida
Penulis: Wahyu Amir

Kamis, 31 Maret 2011

Maafkan Salahku, Ibu

Hukum kekekalan energi dan semua agama menjelaskan bahwa apa pun yang kita lakukan pasti akan dibalas sempurna kepada kita. Apabila kita melakukan energi positif atau kebaikan maka kita akan mendapat balasan berupa  kebaikan pula. Begitu pula bila kita melakukan energi negatif atau keburukan maka kitapun akan mendapat balasan berupa keburukan pula. Kali ini izinkan saya menceritakan sebuah pengalaman pribadi yang terjadi pada 2003.

Pada September-Oktober 2003 isteri saya terbaring di salah satu rumah sakit di Jakarta . Sudah tiga pekan para dokter belum mampu mendeteksi penyakit yang diidapnya. Dia sedang hamil 8 bulan. Panasnya sangat tinggi. Bahkan sudah satu pekan isteri saya telah terbujur di ruang ICU. Sekujur tubuhnya ditempeli kabel-kabel yang tersambung ke sebuah layar monitor.

Suatu pagi saya dipanggil oleh dokter yang merawat isteri saya. Dokter berkata, “Pak Jamil, kami mohon izin untuk mengganti obat ibu”.
Saya pun menjawab “Mengapa dokter meminta izin saya? Bukankan setiap pagi saya membeli berbagai macam obat di apotek dokter tidak meminta izin saya”
Dokter itu menjawab “Karena obat yang ini mahal Pak Jamil.”
“Memang harganya berapa dok?” Tanya saya.
Dokter itu dengan mantap menjawab “Dua belas juta rupiah sekali suntik.”
“Haahh 12 juta rupiah Dok, lantas sehari berapa kali suntik, dok?”
Dokter itu menjawab, “Sehari tiga kali suntik pak Jamil.”
Setelah menarik napas panjang saya berkata, “Berarti satu hari tiga puluh enam juta, Dok?” Saat itu butiran air bening mengalir di pipi. Dengan suara bergetar saya berkata, “Dokter tolong usahakan sekali lagi mencari penyakit isteriku, sementara saya akan berdoa kepada Yang Maha Kuasa agar penyakit istri saya segera ditemukan.”

“Pak Jamil kami sudah berusaha semampu kami bahkan kami telah meminta bantuan berbagai laboratorium dan penyakit istri Bapak tidak bisa kami deteksi secara tepat, kami harus sangat hati-hati memberi obat karena istri Bapak juga sedang hamil 8 bulan, baiklah kami akan coba satu kali lagi tapi kalau tidak ditemukan kami harus mengganti obatnya, Ppak.” jawab dokter.

Setelah percakapan itu usai, saya pergi menuju mushola kecil dekat ruang ICU. Saya melakukan sembahyang dan saya berdoa, “Ya Allah Ya Tuhanku… aku mengerti bahwa Engkau pasti akan menguji semua hamba- Mu, akupun mengerti bahwa setiap kebaikan yang aku lakukan pasti akan Engkau balas dan akupun mengerti bahwa setiap keburukan yang pernah aku lakukan juga akan Engkau balas. Ya Tuhanku… gerangan keburukan apa yang pernah aku lakukan sehingga Engkau uji aku dengan sakit isteriku yang berkepanjangan, tabunganku telah terkuras, tenaga dan pikiranku begitu lelah. Berikan aku petunjuk Ya Tuhanku. Engkau Maha Tahu bahkan Engkau mengetahui setiap guratan urat di leher nyamuk. Dan Engkaupun mengetahui hal yang kecil dari itu. Aku pasrah kepada Mu Ya Tuhanku. Sembuhkanlah istriku. Bagimu amat mudah menyembuhkan istriku, semudah Engkau mengatur milyaran planet di jagat raya ini.”

Ketika saya sedang berdoa itu tiba-tiba terbersit dalam ingatan akan kejadian puluhan tahun yang lalu. Ketika itu, saya hidup dalam keluarga yang miskin papa. Sudah tiga bulan saya belum membayar biaya sekolah yang hanya Rp. 25 per bulan. Akhirnya saya memberanikan diri mencuri uang ibu saya yang hanya Rp. 125. Saya ambil uang itu, Rp 75 saya gunakan untuk mebayar SPP, sisanya saya gunakan untuk jajan.
Ketika ibu saya tahu bahwa uangnya hilang ia menangis sambil terbata berkata, “Pokoknya yang ngambil uangku kualat… yang ngambil uangku kualat…” Uang itu sebenarnya akan digunakan membayar hutang oleh ibuku. Melihat hal itu saya hanya terdiam dan tak berani mengaku bahwa sayalah yang mengambil uang itu.
Usai berdoa saya merenung, “Jangan-jangan inilah hukum alam dan ketentuan Yang Maha Kuasa bahwa bila saya berbuat keburukan maka saya akan memperoleh keburukan. Dan keburukan yang saya terima adalah penyakit isteri saya ini karena saya pernah menyakiti ibu saya dengan mengambil uang yang ia miliki itu.”
Setelah menarik nafas panjang saya tekan nomor telepon rumah dimana ibu saya ada di rumah menemani tiga buah hati saya. Setelah salam dan menanyakan kondisi anak-anak di rumah, maka saya bertanya kepada ibu saya “Bu, apakah ibu ingat ketika ibu kehilangan uang sebayak seratus dua puluh lima rupiah beberapa puluh tahun yang lalu?”

“Sampai kapanpun ibu ingat Mil. Kualat yang ngambil duit itu Mil, duit itu sangat ibu perlukan untuk membayar hutang, kok ya tega-teganya ada yang ngambil,” jawab ibu saya dari balik telepon. Mendengar jawaban itu saya menutup mata perlahan, butiran air mata mengalir di pipi.
Sambil terbata saya berkata, “Ibu, maafkan saya… yang ngambil uang itu saya, bu… saya minta maaf sama ibu. Saya minta maaaaf… saat nanti ketemu saya akan sungkem sama ibu, saya jahat telah tega sama ibu.” Suasana hening sejenak. Tidak berapa lama kemudian dari balik telepon saya dengar ibu saya berkata: “Ya Tuhan, pernyataanku aku cabut, yang ngambil uangku tidak kualat, aku maafkan dia. Ternyata yang ngambil adalah anak laki-lakiku. Jamil kamu nggak usah pikirin dan doakan saja isterimu agar cepat sembuh.” Setelah memastikan bahwa ibu saya telah memaafkan saya, maka saya akhiri percakapan dengan memohon doa darinya.

Kurang lebih pukul 12.45 saya dipanggil dokter, setibanya di ruangan sambil mengulurkan tangan kepada saya sang dokter berkata “Selamat pak, penyakit isteri bapak sudah ditemukan, infeksi pankreas. Ibu telah kami obati dan panasnya telah turun, setelah ini kami akan operasi untuk mengeluarkan bayi dari perut ibu.” Bulu kuduk saya merinding mendengarnya, sambil menjabat erat tangan sang dokter saya berkata. “Terima kasih dokter, semoga Tuhan membalas semua kebaikan dokter.”

Saya meninggalkan ruangan dokter itu…. dengan berbisik pada diri sendiri “Ibu, I miss you so much.”

Cerita Sedih Seorang Ayah

25 tahun yang lalu,
Inikah nasib? Terlahir sebagai menantu bukan pilihan. Tapi aku dan Kania harus tetap menikah. Itu sebabnya kami ada di Kantor Catatan Sipil. Wali kami pun wali hakim. Dalam tiga puluh menit, prosesi pernikahan kami selesai. Tanpa sungkem dan tabur melati atau hidangan istimewa dan salam sejahtera dari kerabat. Tapi aku masih sangat bersyukur karena Lukman dan Naila mau hadir menjadi saksi. Umurku sudah menginjak seperempat abad dan Kania di bawahku.. Cita-cita kami sederhana,ingin hidup bahagia.
22 tahun yang lalu,
Pekerjaanku tidak begitu elit, tapi cukup untuk biaya makan keluargaku. Ya, keluargaku. Karena sekarang aku sudah punya momongan. Seorang putri, kunamai ia Kamila. Aku berharap ia bisa menjadi perempuan sempurna, maksudku kaya akan budi baik hingga dia tampak ! sempurna. Kulitnya masih merah, mungkin karena ia baru berumur seminggu. Sayang, dia tak dijenguk kakek-neneknya dan aku merasa prihatin. Aku harus bisa terima nasib kembali, orangtuaku dan orangtua Kania tak mau menerima kami.. Ya sudahlah. Aku tak berhak untuk memaksa dan aku tidak membenci mereka. Aku hanya yakin, suatu saat nanti, mereka pasti akan berubah.
19 tahun yang lalu,
Kamilaku gesit dan lincah. Dia sekarang sedang senang berlari-lari, melompat-lompat atau meloncat dari meja ke kursi la! lu dari kursi ke lantai kemudian berteriak ‘Horeee, Iya bisa terbang’. Begitulah dia memanggil namanya sendiri, Iya. Kembang senyumnya selalu merekah seperti mawar di pot halaman rumah. Dan Kania tak jarang berteriak, ‘Iya sayaaang,’ jika sudah terdengar suara ‘Prang’. Itu artinya, ada yang pecah, bisa vas bunga, gelas, piring, atau meja kaca.. Terakhir cermin rias ibunya yang pecah. Waktu dia melompat dari tempat tidur ke lantai, boneka kayu yang dipegangnya terpental. Dan dia cuma bilang ‘Kenapa semua kaca di rumah ini selalu pecah, Ma?’
18 tahun yang lalu,
Hari ini Kamila ulang tahun. Aku sengaja pulang lebih awal dari pekerjaanku agar bisa membeli hadiah dulu. Kemarin lalu dia merengek minta dibelikan bola. Kania tak membelikannya karena tak mau anaknya jadi tomboy apalagi jadi pemain bola seperti yang sering diucapkannya. ‘Nanti kalau sudah besar, Iya mau jadi pemain bola!’ tapi aku tidak suka dia menangis terus minta bola, makanya kubelikan ia sebuah bola. Paling tidak aku bisa punya lawan main setiap sabtu sore. Dan seperti yang sudah kuduga, dia bersorak kegirangan waktu kutunjukkan bola itu. ‘Horee, Iya jadi pemain bola.’
17 Tahun yang lalu
Iya, Iya. Bapak kan sudah bilang jangan main bola di jalan. Mainnya di rumah aja. Coba kalau ia nurut, Bapak kan tidak akan seperti ini. Aku tidak tahu bagaimana Kania bisa tidak tahu Iya menyembunyikan bola di tas sekolahnya. Yang aku tahu, hari itu hari sabtu dan aku akan menjemputnyanya dari sekolah. Kulihat anakku sedang asyik menendang bola sepanjang jalan pulang dari sekolah dan ia semakin ketengah jalan. Aku berlari menghampirinya, rasa khawatirku mengalahkan kehati-hatianku dan ‘Iyaaaa’. Sebuah truk pasir telak menghantam tubuhku, lindasan ban besarnya berhenti di atas dua kakiku. Waktu aku sadar, dua kakiku sudah diamputasi. Ya Tuhan, bagaimana ini. Bayang-bayang kelam menyelimuti pikiranku, tanpa kaki, bagaimana aku bekerja sementara pekerjaanku mengantar barang dari perusahaan ke rumah konsumen. Kulihat Kania menangis sedih, bibir cuma berkata ‘Coba kalau kamu tak belikan ia bola!’
15 tahun yang lalu,
Perekonomianku morat marit setelah kecelakaan. Uang pesangon habis untuk ke rumah sakit dan uang tabungan menguap jadi asap dapur. Kania mulai banyak mengeluh dan Iya mulai banyak dibentak. Aku hanya bisa membelainya. Dan bilang kalau Mamanya sedang sakit kepala makanya cepat marah. Perabotan rumah yang bisa dijual sudah habis. Dan aku tak bisa berkata apa-apa waktu Kania hendak mencari ke luar negeri. Dia ingin penghasilan yang lebih besar untuk mencukupi kebutuhan Kamila. Diizinkan atau tidak diizinkan dia akan tetap pergi. Begitu katanya. Dan akhirnya dia memang pergi ke Malaysia .
13 tahun yang lalu,
Setahun sejak kepergian Kania, keuangan rumahku sedikit membaik tapi itu hanya setahun. Setelah itu tak terdengar kabar lagi. Aku harus mempersiapkan uang untuk Kamila masuk SMP. Anakku memang pintar dia loncat satu tahun di SD-nya. Dengan segala keprihatinan kupaksakan agar Kamila bisa melanjutkan sekolah. aku bekerja serabutan, mengerjakan pekerjaan yang bisa kukerjakan dengan dua tanganku. Aku miris, menghadapi kenyataan. Menyaksikan anakku yang tumbuh remaja dan aku tahu dia ingin menikmati dunianya. Tapi keadaanku mengurungnya dalam segala kekurangan. Tapi aku harus kuat. Aku harus tabah untuk mengajari Kamila hidup tegar.
10 tahun yang lalu,
Aku sedih, semua tetangga sering mengejek kecacatanku. Dan Kamila hanya sanggup berlari ke dalam rumah lalu sembunyi di dalam kamar. Dia sering jadi bulan-bulanan hinaan teman sebayanya. Anakku cantik, seperti ibunya. ‘Biar cantik kalo kere ya kelaut aje.’ Mungkin itu kata-kata yang sering kudengar. Tapi anakku memang sabar dia tidak marah walau tak urung menangis juga. ‘Sabar ya, Nak!’ hiburku. ‘Pak, Iya pake jilbab aja ya, biar tidak diganggu!’ pintanya padaku. Dan aku menangis. Anakku maafkan bapakmu, hanya itu suara yang sanggup kupendam dalam hatiku. Sejak hari itu, anakku tak pernah lepas dari kerudungnya. Dan aku bahagia. Anakku, ternyata kamu sudah semakin dewasa. Dia selalu tersenyum padaku. Dia tidak pernah menunjukkan kekecewaannya padaku karena sekolahnya hanya terlambat di bangku SMP.!
7 tahun yang lalu,
Aku merenung seharian. Ingatanku tentang Kania, istriku, kembali menemui pikiranku. Sudah bertahun-tahun tak kudengar kabarnya. Aku tak mungkin bohong pada diriku sendiri, jika aku masih menyimpan rindu untuknya. Dan itu pula yang membuat aku takut. Semalam Kamila bilang dia ingin menjadi TKI ke Malaysia . Sulit baginya mencari pekerjaan di sini yang cuma lulusan SMP.. Haruskah aku melepasnya karena alasan ekonomi. Dia bilang aku sudah tua, tenagaku mulai habis dan dia ingin agar aku beristirahat. Dia berjanji akan rajin mengirimi aku uang dan menabung untuk modal. Setelah itu dia akan pulang, menemaniku kembali dan membuka usaha kecil-kecilan. Seperti waktu lalu, kali ini pun aku tak kuasa untuk menghalanginya. Aku hanya berdoa agar Kamilaku baik-baik saja.
4 tahun lalu,
Kamila tak pernah telat ! mengirimi aku uang. Hampir tiga tahun dia di sana . Dia bekerja sebagai seorang pelayan di rumah seorang nyonya. Tapi Kamila tidak suka dengan laki-laki yang disebutnya datuk. Matanya tak pernah siratkan sinar baik. Dia juga dikenal suka perempuan. Dan nyonya itu adalah istri mudanya yang keempat. Dia bilang dia sudah ingin pulang. Karena akhir-akhir ini dia sering diganggu. Lebaran tahun ini dia akan berhenti bekerja. Itu yang kubaca dari suratnya. Aku senang mengetahui itu dan selalu menunggu hingga masa itu tiba. Kamila bilang, aku jangan pernah lupa salat dan kalau kondisiku sedang baik usahakan untuk salat tahajjud. Tak perlu memaksakan untuk puasa sunnah yang pasti setiap bulan Ramadhan aku harus berusaha sebisa mungkin untuk kuat hingga beduk manghrib berbunyi. Kini anakku lebih pandai menasihati daripada aku. Dan aku bangga.
3 tahun 6 bulan yang lalu,
Inikah badai? Aku mendapat surat dari kepolisian pemerintahan Malaysia , kabarnya anakku ditahan. Dan dia diancam hukuman mati, karena dia terbukti membunuh suami majikannya. Sesak dadaku mendapat kabar ini. Aku menangis, aku tak percaya. Kamilaku yang lemah lembut tak mungkin membunuh. Lagipula kenapa dia harus membunuh. Aku meminta bantuan hukum dari Indonesia untuk menyelamatkan anakku dari maut. Hampir setahun aku gelisah menunggu kasus anakku selesai. Tenaga tuaku terkuras dan airmataku habis. Aku hanya bisa memohon agar anakku tidak dihukum mati andai dia memang bersalah.
2 tahun 6 bulan yang lalu,
Akhirnya putusan itu jatuh juga, anakku terbukti bersalah. Dan dia harus menjalani ! hukuman gantung sebagai balasannya. Aku tidak bisa apa-apa selain menangis sejadinya. Andai aku tak izinkan dia pergi apakah nasibnya tak akan seburuk ini? Andai aku tak belikan ia bola apakah keadaanku pasti lebih baik? Aku kini benar-benar sendiri. Wahai Allah kuatkan aku.
Atas permintaan anakku aku dijemput terbang ke Malaysia. Anakku ingin aku ada di sisinya disaat terakhirnya. Lihatlah, dia kurus sekali. Dua matanya sembab dan bengkak. Ingin rasanya aku berlari tapi apa daya kakiku tak ada.. Aku masuk ke dalam ruangan pertemuan itu, dia berhambur ke arahku, memelukku erat, seakan tak ingin melepaskan aku.
‘Bapak, Iya Takut!’ aku memeluknya lebih erat lagi. Andai bisa ditukar, aku ingin menggantikannya. ‘Kenapa, Ya, kenapa kamu membunuhnya sayang?’
‘Lelaki tua itu ingin Iya tidur dengannya, Pak. Iya tidak mau. Iya dipukulnya. Iya takut, Iya dorong dan dia jatuh dari jendela kamar. Dan dia mati. Iya tidak salah kan , Pak!’ Aku perih mendengar itu. Aku iba dengan nasib anakku. Masa mudanya hilang begitu saja. Tapi aku bisa apa, istri keempat lelaki tua itu menuntut agar anakku dihukum mati. Dia kaya dan lelaki itu juga orang terhormat. Aku sudah berusaha untuk memohon keringanan bagi anakku, tapi menemuiku pun ia tidak mau. Sia-sia aku tinggal di Malaysia selama enam bulan untuk memohon hukuman pada wanita itu.
2 tahun yang lalu,
Hari ini, anakku akan dihukum gantung. Dan wanita itu akan hadir melihatnya. Aku mendengar dari petugas jika dia sudah datang dan ada di belakangku. Tapi aku tak ingin melihatnya. Aku melihat isyarat tangan dari hakim di sana . Petugas itu membuka papan yang diinjak anakku. Dan ‘blass’ Kamilaku kini tergantung. Aku tak bisa lagi menangis. Setelah yakin sudah mati, jenazah anakku diturunkan mereka, aku mendengar langkah kaki menuju jenazah anakku.
Dia menyibak kain penutupnya dan tersenyum sinis. Aku mendongakkan kepalaku, dan dengan mataku yang samar oleh air mata aku melihat garis wajah yang kukenal. ‘Kania?’
‘Mas Har, kau … !’
‘Kau … kau bunuh anakmu sendiri, Kania!’
‘Iya? Dia..dia . Iya?’ serunya getir menunjuk jenazah anakku.
‘Ya, dia Iya kita. Iya yang ingin jadi pemain bola jika sudah besar.’
‘Tidak … tidaaak … ‘ Kania berlari ke arah jenazah anakku. Diguncang tubuh kaku itu sambil menjerit histeris. Seorang petugas menghampiri Kania dan memberikan secarik kertas yang tergenggam di tangannya waktu dia diturunkan dari tiang gantungan. Bunyinya ‘Terima kasih
Mama.’
Aku baru sadar, kalau dari dulu Kamila sudah tahu wanita itu ibunya.
Setahun lalu,
Sejak saat itu istriku gila. Tapi apakah dia masih istriku. Yang aku tahu, aku belum pernah menceraikannya. Terakhir kudengar kabarnya dia mati bunuh diri. Dia ingin dikuburkan di samping kuburan anakku, Kamila. Kata pembantu yang mengantarkan jenazahnya padaku, dia sering berteriak, ‘Iya sayaaang, apalagi yang pecah, Nak.’ Kamu tahu Kania, kali ini yang pecah adalah hatiku.

Jumat, 26 Februari 2010

“Papa.. kembalikan tangan Ita. Untuk apa diambil..

Papa, Kembalikan Tangan Ita....

Sebuah kisah untuk dijadikan pengalaman sebagai pelajaran.
Sebagai orang tua kita patut juga menghalangi perbuatan pasangan untuk memukul sang buah hati. Khususnya pada anak-anak yang masih kecil dan tak tah
u apa-apa. Mengajar dengan cara memukul bukanlah cara terbaik.

Begini kisah nyatanya:
Sepasang suami isteri seperti pasangan lain di kota-kota besar meninggalkan anak-anak untuk diasuh pembantu rumah ketika mereka bekerja. Anak tunggal pasangan ini, perempuan berusia tiga setengah tahun. Sendirian di rumah, dia sering dibiarkan pembantunya yang sibuk bekerja.

Dia bermain diluar rumah. Dia bermain ayunan, berayun-ayun di atas ayunan yang dibeli papanya, ataupun memetik bunga matahari, bunga kertas dan lain-lain di halaman rumahnya.

Suatu hari dia melihat sebatang paku karat. Dia pun mencoret semen tempat mobil ayahnya diparkirkan tetapi karena lantainya terbuat dari marmer, coretan tidak kelihatan. Dicobanya pada mobil baru ayahnya. Ya… karena mobil itu bewarna gelap, coretannya tampak jelas. Apa lagi kanak-kanak ini pun membuat coretan sesuai dengan kreativitasnya.

Hari itu bapak dan ibunya mengendarai motor ke tempat kerja karena jalan macet. Setelah sang anak mencoret penuh sisi yang sebelah kanan dia beralih ke sebelah kiri mobil. Dibuatnya gambar ibu dan ayahnya, gambarnya sendiri, lukisan ayam, kucing dan lain sebagainya mengikuti imaginasinya. Kejadian itu berlangsung tanpa disadari si pembantu rumah.

Pulang petang itu, terkejutlah ayah ibunya melihat mobil yang baru setahun dibeli dengan angsuran. Si bapak yang belum lagi masuk ke rumah ini pun terus menjerit, “Kerjaan siapa ini?” Pembantu rumah yang tersentak dengan jeritan itu berlari keluar. Dia juga beristighfar. Mukanya merah padam ketakutan lebih-lebih melihat wajah bengis tuannya.

Sekali lagi diajukan pertanyaan keras kepadanya, dia terus mengatakan ‘Tak tahu… !” “Kamu dirumah sepanjang hari, apa saja yg kau lakukan?” hardik si isteri lagi. Si anak yang mendengar suara ayahnya, tiba-tiba berlari keluar dari kamarnya. Dengan penuh manja dia berkata “Ita yg membuat itu papa…. cantik kan!” katanya sambil memeluk papanya ingin bermanja seperti biasa. Si ayah yang hilang kesabaran mengambil sebatang ranting kecil dari pohon bunga raya di depannya, terus dipukulkannya berkali-kali ke telapak tangan anaknya.

Si anak yang tak mengerti apa-apa terlolong-lolong kesakitan sekaligus ketakutan. Puas memukul telapak tangan, si ayah memukul pula belakang tangan anaknya. Si ibu cuma mendiamkan saja, seolah merestui dan merasa puas dengan hukuman yang dikenakan. Pembantu rumah terbengong, tidak tahu harus berbuat apa? Si bapak cukup keras memukul-mukul tangan kanan dan kemudian tangan kiri anaknya.

Setelah si bapak masuk ke rumah dituruti si ibu, pembantu rumah menggendong anak kecil itu, membawanya ke kamar. Dilihatnya telapak tangan dan belakang tangan si anak kecil luka-luka dan berdarah. Pembantu rumah memandikan anak kecil itu. Sambil menyiram air sambil dia ikut menangis. Anak kecil itu juga terjerit-jerit menahan kepedihan saat luka-lukanya itu terkena air. Si pembantu rumah kemudian menidurkan anak kecil itu. Si bapak sengaja membiarkan anak itu tidur bersama pembantu rumah.

Keesokkan harinya, kedua belah tangan si anak bengkak. Pembantu rumah mengadu. “Oleskan obat saja!” jawab tuannya, bapak si anak. Pulang dari kerja, dia tidak memperhatikan anak kecil itu yang menghabiskan waktu di kamar pembantu. Si bapak konon mau mengajar anaknya. Tiga hari berlalu, si ayah tidak pernah menjenguk anaknya sementara si ibu juga begitu tetapi setiap hari bertanya kepada pembantu rumah. “Ita demam…” jawap pembantunya ringkas.”Kasih minum obat penurun panas ,” jawab si ibu.

Sebelum si ibu masuk kamar tidur dia menjenguk kamar pembantunya. Saat dilihat anaknya Ita dalam pelukan pembantu rumah, dia menutup lagi pintu kamar pembantunya. Memasuki hari keempat, pembantu rumah memberitahukan tuannya bahwa suhu badan Ita terlalu panas. “Sore nanti kita bawa ke klinik” kata majikannya itu. Sampai saatnya si anak yang sudah lemah dibawa ke klinik. Dokter mengarahkan ia dirujuk ke hospital karena keadaannya serius. Setelah seminggu di rawat inap doktor memanggil bapak dan ibu anak itu.

“Tidak ada pilihan..” katanya yang mengusulkan agar kedua tangan anak itu diamputasi karena gangren yang terjadi sudah terlalu parah.
“Tangannya sudah bernanah, demi menyelamatkan nyawanya kedua tangannya perlu dipotong dari siku ke bawah” kata doktor.

Si bapak dan ibu bagaikan terkena halilintar mendengar kata-kata itu. Terasa dunia berhenti berputar, tapi apa yang dapat dikatakan. Si ibu meraung merangkul si anak. Dengan berat hati dan lelehan air mata isterinya, si bapak terketar-ketar menandatangani surat persetujuan pembedahan.

Keluar dari bilik pembedahan, selepas obat bius yang disuntikkan habis, si anak menangis kesakitan. Dia juga heran melihat kedua tangannya berbalut kasa putih. Ditatapnya muka ayah dan ibunya. Kemudian ke wajah pembantu rumah. Dia mengerutkan dahi melihat mereka semua menangis. Dalam siksaan menahan sakit, si anak bersuara dalam linangan air mata.

“Papa.. Mama… Ita tidak akan melakukannya lagi. Ita tak mau dipukul papa. Ita tak mau jahat. Ita sayang papa.. sayang mama.” katanya berulang kali membuatkan si ibu gagal menahan rasa sedihnya.

“Ita juga sayang Kak Narti..” katanya memandang wajah pembantu rumah, sekaligus membuatkan gadis itu meraung histeris.

“Papa.. kembalikan tangan Ita. Untuk apa diambil.. Ita janji nggak akan mengulanginya lagi! Bagaimana caranya Ita mau makan nanti? Bagaimana Ita mau bermain nanti? Ita janji tdk akan mencoret-coret mobil lagi,” katanya berulang-ulang.

Serasa copot jantung si ibu mendengar kata-kata anaknya. Meraung-raung dia sekuat hati namun takdir yang sudah terjadi, tiada manusia dapat menahannya.

Teman-teman, pelajaran berharga apa yang dapat kita petik dari kisah nyata ini,

silahkan LIKE dan tulis komentar Anda lalu share kepada orang-orang disekitar Anda, agar hal yang sama tidak terjadi di keluarga lain.
my Cbox